Jumat, 26 Februari 2016

Strategi Mengelola Masalah dalam Pembelajaran

  Strategi mengelola masalah dalam pembelajaran – Barangkali guru sering mengalami kendala dalam menjalankan pembelajaran di kelas. Terutama sekali guru yang sedang melaksanakan praktik lapangan atau guru yang terbilang baru dalam mengajar. Namun tidak tertutup kemungkinan, kendala ini juga dialami oleh guru yang sudah lama mengajar.
  Iya, hal seperti itu bukan mustahil terjadi dan dialami oleh setiap guru. Yang dihadapi guru bukanlah benda mati. Guru menghadapi kumpulan sekian murid dengan sifat dan karakter berbeda satu sama lainnya. Mereka adalah individu yang sedang proses menuju dewasa.

mengelola pembelajaran,masalah pembelajaran
      Kadang-kadang siswa sekarang merasa sudah dewasa. Atau berpikir seolah-olah seperti orang dewasa sehingga ingin diperlakukan oleh guru maupun orang tua sebagai orang dewasa pula. Tak mau dikekang begitu saja meskipun itu dalam suasana pembelajaran dalam kelas. Kurang senang kalau guru memperlakukan mereka sebagai anak kecil.
      Tidak mudah memang mengelola masalah dalam pembelajaran. Namun paling tidak guru perlu berusaha untuk meminimalisir permasalahan tersebut. Dan, setiap guru sudah pasti memiliki kiat dan trik tersendiri untuk mengelola masalah yang sering muncul dalam melaksanakan pembelajaran. Barangkali, hal berikut ini dapat dijadikan pertimbangan atau acuan bagi guru dalam mengelola masalah pembelajaran.

1.Mengendalikan diri

    Hal utama dan penting dimiliki oleh setiap guru adalah kesanggupan mengendalikan diri. Mustahil seorang guru mampu mengendalikan siswa secara efektif jika tidak memiliki pengendalian diri yang bagus. 

   Mengendalikan diri dalam konteks ini adalah kesabaran. Tidak mudah atau cepat tersinggung oleh perilaku siswa. Menjauhkan diri dari prasangka buruk terhadap siswa.
   Dinamika komunikasi sosial siswa memang mengalami peningkatan akibat kemajuan informasi. Siswa sering menunjukkan sikap dan perlaku blak-blakan kepada guru. Perilaku ini sering pula membuat guru merasa tidak dihargai dan dipatuhi oleh siswa. 

   Kondisi ini perlu disikapi dengan pengendalian diri yang mantap. Pendek kata, memahami siswa sebagai individu yang sedang berkembang di tengah kemajuan zaman.

2.Mengefektifkan komunikasi

     Bahasa yang digunakan guru besar pengaruhnya terhadap siswa. Bahasa lisan dan bahasa non-lisan. Bahasa non-lisan adalah bahasa yang muncul dari gerak-gerik anggota tubuh guru ketika mengajar. 

    Meliputi gerak tangan dan ekspresi wajah ketika berkomunikasi dengan siswa di ruang kelas. Dua bahasa non-lisan ini ternyata efektif mengendalikan siswa di dalam kelas.  
    Bahasa lisan yang digunakan dalam komunikasi pembelajaran perlu diupayakan sejelas mungkin. Baik nada maupun intonasinya. Namun yang lebih penting adalah suara tidak terlalu lemah sehingga siswa dapat mendengar suara guru sampai ke bagian belakang.
    Bahasa lisan maupun non-lisan efektif untuk meredakan perilaku menyimpang yang ditunjukkan oleh siswa.

3.Hukuman dan penghargaan

     Di sekolah memang telah diterapkan sistem hukuman (punishment) dan penghargaan (reward) kepada siswa. Namun cara ini menjadi tidak efektif jika tidak pada waktu dan kondisi yang tepat.
    Memberikan hukuman terhadap siswa yang menunjukkan perilaku menyimpang dan menimbulkan masalah dalam pembelajaran. Kadang-kadang perlu mengkonfirmasikan atau minta persetujuan kepada siswa yang lain. 

    Ini memang jarang dilakukan oleh guru. Guru hanya bertindak sendiri dalam memberikan hukuman kepada siswa melakukan pelanggaran disiplin belajar.
   Siswa yang menunjukkan perilaku positif dalam pembelajaran perlu mendapat penghargaan,  minimal penghargaan verbal. Pemberian hukuman dan penghargaan secara proporsional dinilai cukup efektif dalam mengelola masalah pembelajaran di ruang kelas.
http://www.matrapendidikan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar